Bahasa Inggris Wajib Kelas 3, Tapi Guru Bahasa Inggris SD Tak Diakui 24 JP

Admin BIC
Admin BIC • 21 Oct 2026 • 5 menit baca
Kebijakan wajib 2027 sudah diketok. Tapi di lapangan guru bingung: mengajar Bahasa Inggris di SD tidak dihitung 24 JP untuk tunjangan. Akhirnya guru kelas yang disuruh ikut pelatihan kilat 6 bulan.
SOROTAN UTAMA
  • Wajib mulai tahun ajaran 2027/2028 kelas 3-6 SD/MI, alokasi 2 JP/minggu - aturannya di Pasal 33 Permendikbudristek No.12/2024 & Permendikdasmen No.13/2025
  • Dari total 150.447 SD di Indonesia, 90.447 sekolah (60%) belum punya guru Bahasa Inggris sama sekali
  • Status guru tunggal Bahasa Inggris SD tidak diakui untuk penuhi 24 JP, makanya banyak guru mapel harus muter ke 2-3 sekolah
  • Solusi pemerintah: Program PKGSD-MBI cetak 1.100 fasilitator untuk latih 90.000 guru kelas, skema 6 bulan (2 bulan LMS Ruang GTK + 2 bulan ngajar 1-2 JP)
  • Target kompetensi dari CEFR A1-A2 ke B1, dengan metode Mindful, Meaningful, Joyful Learning lewat storytelling & game-based learning
  • Disparitas nyata: Tangerang sudah English Day, Gunungkidul kekurangan 936 guru dan Bantul kelebihan 70 guru kelas tapi minus guru Bahasa Inggris

Bu Ani itu guru kelas 3 di SD Negeri pinggiran Gunungkidul. Honorer sudah 8 tahun. Pagi ngajar tematik, siang urus administrasi BOS, sore masih harus bimbel calistung buat anak-anak yang belum lancar baca. Bulan lalu kepala sekolah manggil, "Bu, tahun depan ikut pelatihan Bahasa Inggris ya, 6 bulan."

Bu Ani bengong. Latar belakangnya PGSD, bukan Pendidikan Bahasa Inggris. Pronunciation aja masih belepotan. Tapi kata kepala sekolah, "Semua guru kelas wajib ikut PKGSD-MBI. Kalau tidak, tahun 2027 siapa yang ngajar Bahasa Inggris wajib kelas 3?"

Baca juga: guru

Cerita Bu Ani ini bukan satu-dua. Kalau kamu buka TikTok gurundeso, komentarnya rame: "Bahasa Inggris di SD bukan mapel wajib, jadi guru Bhs Inggris harus mengajar 24JP tidak ada yang namanya guru tunggal Bahasa Inggris di SD". Artinya, kalau kamu lulus S1 Pendidikan Bahasa Inggris dan mau ngajar di SD, jam kamu tidak dihitung untuk tunjangan profesi. Kamu harus muter ke 3-4 sekolah biar cukup 24 JP.

Padahal kebijakannya sudah final.

BIMBEL TKA 2026

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

DAFTAR

Padahal kebijakannya sudah final.

Jadi gini, biar nggak simpang siur. Awalnya Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 Pasal 33 bilang: Bahasa Inggris di SD/MI/sederajat masih mata pelajaran pilihan yang bisa diselenggarakan berdasarkan kesiapan satuan pendidikan sampai tahun ajaran 2026/2027.

Nah, lanjutannya ada di Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Di situ ditegaskan: mulai tahun ajaran 2027/2028, Bahasa Inggris jadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 hingga kelas 6, alokasi 2 jam pelajaran per minggu untuk fase B dan C.

Menteri Abdul Mu'ti bilang ini bukan keputusan tiba-tiba. Kajiannya panjang. Tapi kuncinya ada di kalimatnya: "Penerapan bergantung pada kesiapan tenaga pendidik". Makanya pelatihan massal digenjot mulai 2026.

Angka 90.447 Itu Bukan Sekadar Statistik

Data terbaru dari Direktorat Guru Dikdas yang paling jujur: dari total 150.447 SD di Indonesia, lebih dari 90.447 sekolah belum memiliki guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Alias 60%.

Dirjen GTK Nunuk Suryani bahkan nyeletuk jujur waktu peluncuran PKGSD-MBI di YouTube Kemendikdasmen: "Dari total sekitar 150 ribu sekolah dasar, lebih dari 90 ribu belum memiliki guru dengan latar belakang Bahasa Inggris. Nah, 60 ribunya itu pun belum semuanya guru kelas dan belum tentu guru kelas 3 ya."

Lah, yang 60 ribu yang katanya "sudah punya" pun belum tentu bisa ngajar kelas 3. Kebayang kan PR-nya?

Untuk nutup lubang itu, pemerintah bikin Program Pengembangan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI). Targetnya ambisius: cetak total 1.100 Calon Fasilitator yang terbagi 5 angkatan. Angkatan 3 aja kemarin dihadiri 259 orang dari 11 provinsi dan 84 kabupaten/kota di Hotel Golden Boutique Kemayoran.

Fasilitator ini isinya widyaiswara, dosen, guru, praktisi. Mereka dilatih dulu, baru nanti melatih 90.000 guru SD di daerah.

Beban Ganda: Sudah Overload, Disuruh Ikut Pelatihan Kilat 6 Bulan

Ini yang bikin guru kelas kayak Bu Ani ngelus dada. Skema pelatihannya 6 bulan, lho.

Fase 1: In-Service Training 2 bulan di LMS Ruang GTK. Fase 2: On-the-job training 2 bulan, guru mulai ngajar Bahasa Inggris di sekolah secara bertahap 1-2 JP per minggu selama 2 bulan. Total 6 bulan.

Targetnya: kompetensi naik dari CEFR A1-A2 (pemula) ke minimal B1. B1 itu level intermediate, bisa ngobrol sehari-hari.

Tapi dosen UGM yang dimintai pendapat bilang: mengajar anak SD kelas 3 usia 8-9 tahun itu bukan soal kamu B1 atau C1. Anak butuh phonics, butuh Total Physical Response, butuh lagu, tepuk tangan, bermain peran. B1 mahir ngobrol, tapi belum tentu bisa bikin anak berani bilang "My name is Budi" tanpa takut salah.

Pemerintah bilangnya metode akan Mindful, Meaningful, Joyful Learning lewat storytelling dan game-based learning. Kolaborasinya sama Cambridge, British Council, RELO. Kedengarannya keren. Tapi di lapangan, guru kelas yang sudah ngajar 24 JP tematik harus nambah beban lagi.

Kalau Tak Cukup JP, Ya Muter

Ini inti dari Information Gain yang kompetitor lewatkan. Di jenjang SD, tidak ada istilah guru tunggal mapel seperti di SMP/SMA. Guru kelas lah yang utama. Kalau ada lulusan Pendidikan Bahasa Inggris mau ngajar di SD, dia tidak bisa di satu sekolah saja. Karena 2 JP x 6 kelas = 12 JP, tidak cukup untuk syarat 24 JP tunjangan profesi.

Akhirnya? Dia harus muter ke 2-3 SD negeri. Ongkos bensin sendiri, jadwal tabrakan.

Makanya banyak SD akhirnya "ya sudah guru kelas saja yang dilatih". Padahal guru kelas di Landak, Kalimantan, banyak yang tidak punya latar belakang Bahasa Inggris, kesulitan pronunciation dan structure.

Di Bantul malah kebalikannya: SD kelebihan 70 guru kelas, SMP kelebihan 13 guru Bahasa Inggris, tapi mapel lain masih kurang. Penyebarannya tidak merata.

Kota vs Desa: Jomplang Banget

Di Tangerang, Pemkot sudah terapkan English Day wajib di SD dan SMP. Anak diwajibkan komunikasi pakai Bahasa Inggris sehari.

Di sisi lain, di Gunungkidul, Disdik kekurangan 936 guru. Sampai harus alihkan guru swasta ke sekolah negeri. 31 guru TK ditempatkan untuk ngajar kelas 1-2 SD karena kekurangan guru kelas.

Di Desa Simu, Sumbawa, ada guru agama bernama Widya Kurnia Ulfa yang jadi pelopor Bahasa Inggris karena tidak ada guru. Dia bilang disparitas pendidikan kota dan desa sangat jauh.

Terus gimana pelatihan LMS 2 bulan mau jalan di daerah 3T Papua, Maluku, NTT yang satu guru harus ngajar beberapa kelas sekaligus dan sinyal internet putus-putus?

Sementara itu, Kemenag punya jalur sendiri. Untuk MI yang juga wajib Bahasa Inggris kelas 3 tahun 2027, mereka latih 6.000 guru lewat kerja sama British Council program STEPS-CoP (Strengthening Primary English Teaching through Communities of Practice). Modelnya komunitas praktik, bukan fasilitator top-down. Mana yang lebih nyambung sama desa?

Bu Ani di Gunungkidul akhirnya ikut pelatihan. Malam-malam buka LMS sambil ngantuk. Dia bilang, "Saya takut salah ngajarin pronunciation ke anak-anak. Tapi kalau tidak saya yang maju, siapa lagi?"

Dan mungkin itu pertanyaan kita semua: seberapa siap sekolah negeri kita, kalau yang disuruh siap adalah guru yang statusnya saja belum diakui?

Admin BIC

Tim Redaksi Pendidikan

Admin BIC adalah tim pengelola konten di bawah naungan Brawijaya Intensive Centre (BIC). Terdiri dari para tutor dan konsultan pendidikan yang berkomitmen menyediakan informasi akurat, praktis, dan terpercaya.

iklan

Bimbel TKA SMA 2026

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *