{"id":2145,"date":"2026-06-23T14:14:04","date_gmt":"2026-06-23T07:14:04","guid":{"rendered":"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/?p=2145"},"modified":"2026-08-21T12:25:35","modified_gmt":"2026-08-21T05:25:35","slug":"kurikulum-merdeka-2026-beban-guru-kualitas-pembelajaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/kurikulum-merdeka-2026-beban-guru-kualitas-pembelajaran\/","title":{"rendered":"Kurikulum Merdeka 2026: Beban Guru dan Krisis Kualitas"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sorotan Utama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Indonesia telah mengalami setidaknya 10 perubahan kurikulum sejak kemerdekaan, namun skor PISA tetap rendah dibandingkan rata-rata OECD, dengan penurunan dari 2015 ke 2022.<\/li>\n\n\n\n<li>Hanya 12% guru sekolah dasar merasa menguasai materi literasi membaca, dan 21% untuk matematika, berdasarkan data RISE Programme.<\/li>\n\n\n\n<li>Kebutuhan untuk merilis panduan revisi secara berulang menyiratkan bahwa Kurikulum Merdeka belum menemukan bentuk yang stabil dan operasional bagi seluruh satuan pendidikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Survei Kemendikbudristek 2025 mencatat sekolah yang menerapkan perangkat ajar berbasis Deep Learning mengalami peningkatan hasil literasi siswa sebesar 32 persen dalam dua semester pertama \u2014 sebuah harapan yang kini sedang diuji oleh realitas lapangan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik setiap ruang kelas yang tampak tenang, ada dua keluhan yang terus berulang: guru yang kehabisan energi sebelum jam pelajaran berakhir, dan siswa yang dicap tidak mampu meski sesungguhnya beban materi yang mereka pikul jauh melampaui kapasitas sistem yang seharusnya menopang mereka. Perdebatan tentang apakah <a href=\"\/tag\/kurikulum\/\">kurikulum<\/a> nasional Indonesia telah mengalami <em>downgrade<\/em> \u2014 atau justru sebaliknya, terlalu ambisius untuk diimplementasikan secara merata \u2014 kembali memanas pada pertengahan 2026, tepat ketika tenggat waktu penuh penerapan Kurikulum Merdeka (KM) semakin mendekat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Polemik ini bukan semata soal dokumen kebijakan. Ini adalah pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya menanggung beban terberat dari setiap pergantian arah pendidikan nasional: apakah perancang kurikulumnya, atau guru dan siswa yang hidup di dalam sistemnya setiap hari. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (<a href=\"\/tag\/dikdasmen\/\">Kemendikdasmen<\/a>) memastikan tidak akan ada pergantian kurikulum baru untuk tahun ajaran 2025\/2026, dengan pembaruan yang dilakukan melalui adopsi metode pembelajaran mendalam atau <em><a href=\"\/tag\/deep-learning\/\">Deep Learning<\/a><\/em> yang berfokus pada kualitas pemahaman materi, bukan pada pergantian dokumen kurikulum. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apakah Kurikulum Merdeka Benar-Benar \"Menurunkan\" Standar, atau Justru Mengangkat Tuntutan di Atas Kapasitas Sistem?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasi bahwa kurikulum Indonesia mengalami <em>downgrade<\/em> \u2014 penurunan standar akademik demi mengejar angka kelulusan \u2014 adalah simplifikasi yang berbahaya. Yang terjadi sesungguhnya jauh lebih kompleks: standar idealnya naik, tetapi infrastruktur penopangnya tidak ikut bergerak dengan kecepatan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, cakupan materi Kurikulum Merdeka dibuat lebih ramping sehingga memungkinkan guru menggunakan metode pembelajaran yang lebih berpusat pada murid, sekaligus memberi waktu khusus untuk pengembangan karakter murid secara lebih utuh. Di atas kertas, ini adalah desain yang masuk akal. Kurikulum yang lebih ramping secara teori seharusnya mengurangi tekanan hafalan dan memberi ruang bagi kedalaman konsep. Namun di lapangan, \"keramping-an\" materi tidak serta-merta berarti \"keringanan\" bagi guru. Kemendikdasmen berambisi mendorong pendekatan <em>Deep Learning<\/em> (Pembelajaran Mendalam) dan penyesuaian kompetensi kokurikuler, sementara di sisi lain kesiapan guru dan infrastruktur masih menjadi hambatan nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena \"siswa yang terlihat tidak mampu\" pada akhirnya bukan cerminan dari rendahnya kapasitas kognitif generasi muda Indonesia. Masalah disiplin dan kesulitan belajar sering kali berakar dari rasa frustrasi karena materi pelajaran yang terlalu sulit atau metode mengajar yang tidak sesuai, bukan dari ketidakmampuan bawaan. Psikiater Syailendra W.S. dari Rumah Sakit Pusat Pertamina bahkan menyebut kurikulum yang diterima siswa SD saat ini dinilai melebihi kewajaran usia mereka, dengan sekitar 20 persen anak diduga mengalami masalah serupa \u2014 dan fenomena ini seperti gunung es.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Guru Kelelahan Sebelum Sempat Mengajar?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ada satu akar masalah yang paling konsisten disebut oleh para pendidik di lapangan, jawabannya bukan pada sulitnya materi \u2014 melainkan pada beban administratif yang telah menggeser guru dari peran utamanya sebagai pengajar menjadi petugas dokumentasi digital.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guru diwajibkan mengunggah jurnal refleksi, demonstrasi kontekstual, hingga aksi nyata ke platform digital secara berkala dalam program Guru Penggerak, yang menyita waktu jam kerja efektif dan menimbulkan risiko degradasi kualitas kelas. Program yang dirancang untuk melahirkan pemimpin pembelajaran justru berpotensi menciptakan jurang antara guru yang terlibat penuh dalam administrasi program dan siswa yang membutuhkan pendampingan langsung di kelas. Beban yang terlalu besar berisiko membuat guru hebat justru kehilangan semangat mengajarnya karena merasa kelelahan dengan tuntutan sistem yang serba digital dan administratif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah ini diperparah oleh ketimpangan akses pelatihan. Guru yang ingin belajar mengenai Kurikulum Merdeka secara langsung harus mendatangkan narasumber dengan biaya sendiri, sementara pelatihan yang disediakan hanya melalui aplikasi dengan metode video webinar satu arah. Kondisi ini menciptakan jurang antara pengetahuan kebijakan dan kemampuan implementasi \u2014 dua hal yang harus berjalan beriringan agar reformasi kurikulum benar-benar mencapai ruang kelas. Sebuah penelitian oleh Pusat Penelitian Pendidikan menunjukkan bahwa guru membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum baru, sebuah fakta yang sering diabaikan saat kebijakan baru dideklarasikan berlaku efektif dalam hitungan bulan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Dimaksud dengan \"Ganti Menteri, Ganti Kurikulum\" dan Mengapa Polanya Terus Berulang?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Frasa ini bukan sekadar sindiran publik. Ia adalah diagnosis struktural tentang bagaimana kebijakan pendidikan Indonesia terlalu sering dibangun di atas fondasi kepentingan jangka pendek ketimbang hasil belajar jangka panjang. Indonesia telah mengalami setidaknya 10 perubahan kurikulum sejak kemerdekaan pada tahun 1947, dan perubahan yang terlalu sering dapat memperburuk pendidikan dengan menciptakan ketidakstabilan yang menyebabkan kebingungan dan penurunan prestasi.<\/p>\n\n\n\n<figure data-wp-context=\"{&quot;imageId&quot;:&quot;6ad38dd8608c8&quot;}\" data-wp-interactive=\"core\/image\" data-wp-key=\"6ad38dd8608c8\" class=\"wp-block-image aligncenter size-large wp-lightbox-container\"><img decoding=\"async\" width=\"572\" height=\"1024\" data-wp-class--hide=\"state.isContentHidden\" data-wp-class--show=\"state.isContentVisible\" data-wp-init=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--click=\"actions.showLightbox\" data-wp-on--load=\"callbacks.setButtonStyles\" data-wp-on--pointerdown=\"actions.preloadImage\" data-wp-on--pointerenter=\"actions.preloadImageWithDelay\" data-wp-on--pointerleave=\"actions.cancelPreload\" data-wp-on-window--resize=\"callbacks.setButtonStyles\" src=\"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/infografis-01-full-572x1024.webp\" alt=\"infografis timeline perubahan kurikulum pendidikan Indonesia 1947-2026. Saat ini kurikulum menggunakan Kurikulum Merdeka 2022\" class=\"wp-image-2148\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/infografis-01-full-572x1024.webp 572w, https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/infografis-01-full-480x860.webp 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) 572px, 100vw\" \/><button\n\t\t\tclass=\"lightbox-trigger\"\n\t\t\ttype=\"button\"\n\t\t\taria-haspopup=\"dialog\"\n\t\t\tdata-wp-bind--aria-label=\"state.thisImage.triggerButtonAriaLabel\"\n\t\t\tdata-wp-init=\"callbacks.initTriggerButton\"\n\t\t\tdata-wp-on--click=\"actions.showLightbox\"\n\t\t\tdata-wp-style--right=\"state.thisImage.buttonRight\"\n\t\t\tdata-wp-style--top=\"state.thisImage.buttonTop\"\n\t\t>\n\t\t\t<svg xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"12\" height=\"12\" fill=\"none\" viewBox=\"0 0 12 12\">\n\t\t\t\t<path fill=\"#fff\" d=\"M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z\" \/>\n\t\t\t<\/svg>\n\t\t<\/button><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling menyita perhatian adalah fakta bahwa perubahan kurikulum \u2014 sebesar apapun ambisinya \u2014 tidak pernah diikuti oleh perbaikan yang setara pada tiga komponen penopangnya: kualitas guru, infrastruktur sekolah, dan kesenjangan antardaerah. Abdul Mu'ti mengakui bahwa masih terdapat ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, dan di beberapa wilayah, terutama pedesaan, masih ditemukan sekolah yang kekurangan guru serta sarana prasarana yang memadai. Sebuah kurikulum yang dirancang di Jakarta untuk diterapkan seragam dari Sabang sampai Merauke, tanpa diferensiasi kebutuhan regional yang memadai, akan selalu menghasilkan ketimpangan yang sama \u2014 hanya dengan nama yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun Kurikulum Merdeka dirancang untuk mendorong pembelajaran yang lebih mendalam, penelitian menunjukkan bahwa manfaatnya terbatas oleh tantangan implementasi seperti kurangnya pelatihan guru dan infrastruktur. Bahkan data Asesmen Nasional yang diklaim positif pun perlu dibaca dengan hati-hati: peningkatan skor literasi dan numerasi di sekolah pengguna KM dibanding yang belum tidak otomatis berarti kurikulumnya yang unggul \u2014 bisa jadi sekolah-sekolah yang sudah mampu mengadopsi KM memang sudah memiliki kapasitas awal yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Deep Learning dan Apakah Ini Solusi yang Tepat untuk Masalah yang Benar?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Deep Learning<\/em> \u2014 atau Pembelajaran Mendalam dalam istilah resmi Kemendikdasmen \u2014 adalah pendekatan yang menekankan pemahaman konsep secara menyeluruh, bukan hafalan dangkal. Metode ini memungkinkan seseorang memahami konsep secara menyeluruh dan tidak mudah melupakan materi yang telah dipelajari, mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah secara mandiri. Dalam penerapannya, ini berarti guru perlu beralih dari ceramah satu arah ke model problem-based learning atau inquiry-based learning \u2014 sebuah lompatan metodologis yang tidak bisa dilakukan tanpa pelatihan yang substansial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Referensi yang dikutip dalam panduan guru menyebutkan penelitian UNESCO 2024 yang menunjukkan pembelajaran mendalam meningkatkan retensi konsep hingga 40 persen lebih tinggi dibanding metode hafalan tradisional. Angka ini menjanjikan, namun perlu dikontekstualisasi: penelitian tersebut dilakukan dalam kondisi yang tidak selalu merepresentasikan sekolah-sekolah di daerah terpencil Indonesia yang bahkan belum memiliki koneksi internet stabil. Sejak 2025, lebih dari 288 ribu <em>Interactive Flat Panel<\/em> telah didistribusikan ke sekolah, namun tanpa perubahan cara mengajar, perangkat itu hanya akan menjadi proyektor mahal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr. Andi Suryanto, ahli pendidikan yang pendapatnya dikutip dalam berbagai diskusi akademis, menegaskan bahwa meskipun perubahan kurikulum bertujuan mulia, implementasinya yang terburu-buru dan tanpa strategi pengajaran yang matang justru menyebabkan pembelajaran menjadi lebih menantang, dan agar perubahan berjalan efektif, kurikulum harus disertai perencanaan yang matang termasuk pendekatan pengajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik siswa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Nasib Siswa yang Terjebak di Tengah Transisi Kebijakan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di antara semua pihak yang terdampak, siswa adalah kelompok yang paling tidak memiliki suara dalam perdebatan kebijakan ini \u2014 namun paling merasakan konsekuensinya. Dengan banyaknya materi yang harus dipelajari dalam waktu terbatas, banyak siswa yang merasa kesulitan untuk menguasai semua topik yang diajarkan, sementara guru juga dihadapkan pada tantangan besar untuk menyampaikan materi yang kompleks tanpa mengurangi kualitas pengajaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanda-tanda tekanan ini tidak selalu terlihat dalam angka rapor. Perwujudan masalah beban pelajaran bukan hanya penolakan ke sekolah, tetapi juga bisa berbentuk depresi, sensitif, gampang marah, menghabiskan waktu dengan bermain gim, minder, dan perilaku berisiko tinggi. Ini adalah epidemi diam yang jarang masuk dalam indikator keberhasilan kurikulum resmi. Kelelahan fisik maupun psikologis akibat beban tugas yang berat dapat memengaruhi efektivitas belajar siswa, dan pengelolaan beban tugas serta dukungan yang tepat adalah kunci dalam mengatasi masalah ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Celah data yang signifikan masih belum terjawab secara publik: berapa sesungguhnya persentase siswa yang mengalami gangguan psikologis akibat tekanan kurikulum di tingkat nasional? Data psikiater Syailendra W.S. yang menyebut angka 20 persen sebagai puncak gunung es perlu diverifikasi oleh survei kesehatan mental pelajar berskala nasional \u2014 sebuah riset yang hingga artikel ini ditulis <strong>belum diumumkan<\/strong> secara resmi oleh Kemendikdasmen maupun Kementerian Kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Seharusnya Berubah: Dokumen Kurikulumnya atau Ekosistem di Sekelilingnya?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Revisi Panduan 2025 menunjukkan bahwa pemerintah terus berupaya menyempurnakan sistem, tetapi perbaikan <em>hardware<\/em> (infrastruktur dan dana BOS) dan <em>humanware<\/em> (kesiapan guru) harus berjalan beriringan dengan perbaikan <em>software<\/em> (dokumen kurikulum). Pernyataan ini, yang berasal dari analisis atas kebijakan BSKAP sendiri, sesungguhnya adalah pengakuan implisit bahwa selama ini ketiga dimensi tersebut tidak berjalan selaras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan mempertahankan struktur Kurikulum Merdeka dan memperdalam metode, pemerintah mencoba menjawab kritik lama: terlalu sering ganti kulit, jarang menguatkan isi. Keputusan untuk tidak mengganti nama kurikulum pada 2025\/2026 ini adalah langkah yang tepat secara prinsip \u2014 namun akan terasa hampa jika tidak disertai investasi nyata pada pengembangan kompetensi guru di lapangan. Keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka 2026 sangat bergantung pada kualitas guru dan tenaga kependidikan, sehingga Kemendikbudristek akan memperkuat program pengembangan profesional berkelanjutan (PPB) bagi guru. Apakah PPB ini akan menjangkau guru-guru di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dengan cara yang bermakna \u2014 bukan sekadar webinar YouTube \u2014 adalah pertanyaan yang masih menggantung.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"instagram-media\" data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DZsHZ9sO3Pu\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\" style=\" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);\"><div style=\"padding:16px;\"> <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DZsHZ9sO3Pu\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <div style=\" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\"> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div><\/div><\/div><div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div> <div style=\"display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;\"><svg width=\"50px\" height=\"50px\" viewBox=\"0 0 60 60\" version=\"1.1\" xmlns=\"https:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" xmlns:xlink=\"https:\/\/www.w3.org\/1999\/xlink\"><g stroke=\"none\" stroke-width=\"1\" fill=\"none\" fill-rule=\"evenodd\"><g transform=\"translate(-511.000000, -20.000000)\" fill=\"#000000\"><g><path d=\"M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631\"><\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div><div style=\"padding-top: 8px;\"> <div style=\" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;\">View this post on Instagram<\/div><\/div><div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\"><div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div><\/div><div style=\"margin-left: 8px;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div> <div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)\"><\/div><\/div><div style=\"margin-left: auto;\"> <div style=\" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div> <div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div><\/div><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div><\/div><\/a><p style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;\"><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DZsHZ9sO3Pu\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">A post shared by Mulyadi Ahmad (@mulyadi_ahmad89)<\/a><\/p><\/div><\/blockquote>\n<script async src=\"\/\/www.instagram.com\/embed.js\"><\/script>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesiapan proaktif dari seluruh satuan pendidikan, mulai dari pemantauan regulasi, persiapan sumber daya, hingga penyelarasan dokumen, adalah kunci untuk memastikan transisi yang efektif dan peningkatan kualitas pendidikan di masa depan. Namun kesiapan itu tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Ia membutuhkan ekosistem kebijakan yang konsisten, anggaran yang memadai, dan kemauan politik untuk mengakui bahwa dokumen kurikulum terbaik pun tidak ada artinya jika guru yang menghidupkannya tidak mendapat dukungan yang sepadan dengan tuntutannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia Setelah 2026?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun ajaran 2026\/2027 adalah tenggat nasional penerapan penuh Kurikulum Merdeka \u2014 dan 2027\/2028 untuk sekolah di wilayah 3T. Angka-angka ini bukan sekadar batas administratif; ia adalah ujian nyata apakah sistem pendidikan Indonesia telah cukup matang untuk mewujudkan ambisi kurikulumnya. Anak kelas 1 akan belajar membaca bukan dengan mengeja huruf, tetapi dengan memahami cerita. Siswa SMP akan belajar matematika bukan dengan rumus, tetapi dengan masalah. Siswa SMA akan belajar AI bukan dengan menghafal definisi, tetapi dengan membuat proyek sederhana. Visi ini indah \u2014 dan bukan tidak mungkin diwujudkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun pertanyaan yang lebih jujur adalah ini: jika pada 2028 nanti masih ada guru yang mengajar tanpa pelatihan memadai, masih ada sekolah tanpa akses internet yang layak, dan masih ada siswa yang didiagnosis \"lambat belajar\" padahal sistem di sekelilingnya yang terlambat mempersiapkan diri \u2014 siapa yang akan bertanggung jawab? Reformasi kurikulum yang sungguh-sungguh bukan diukur dari seberapa sering berganti nama, melainkan dari seberapa banyak siswa di pelosok Nusa Tenggara dan Papua yang benar-benar merasakan perbedaannya di dalam kelas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Debat panas seputar kualitas kurikulum nasional kembali mencuat di Indonesia pada pertengahan 2026. Guru mengeluhkan beban administratif yang melumpuhkan waktu mengajar, sementara siswa dinilai &#8220;tidak mampu&#8221; padahal sesungguhnya materi yang mereka tanggung jauh melampaui kesiapan sistem pendukungnya.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2146,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[140,412],"tags":[141,45,167],"class_list":["post-2145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kurikulum","category-sistem-pembeljaran","tag-deep-learning","tag-dikdasmen","tag-kurikulum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2145"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2145\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}