{"id":3840,"date":"2026-10-14T15:16:13","date_gmt":"2026-10-14T08:16:13","guid":{"rendered":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/?p=3840"},"modified":"2026-10-14T15:16:16","modified_gmt":"2026-10-14T08:16:16","slug":"ujian-kenaikan-kelas-2027-momentum-pembenahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/ujian-kenaikan-kelas-2027-momentum-pembenahan\/","title":{"rendered":"Ujian Kenaikan Kelas 2027 Kembali: Momentum Pembenahan, Bukan Sekadar Sanksi Tinggal Kelas"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BICARAINFO.COM - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersiap menghentikan kebijakan kenaikan kelas otomatis bagi siswa, dengan wacana pemberlakuan aturan baru mulai tahun ajaran 2027. Kebijakan ini bukan sekadar soal sanksi tinggal kelas, melainkan momentum untuk membenahi sistem asesmen yang selama ini hanya mengukur hafalan, bukan kompetensi riil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wacana ini disampaikan Menteri Abdul Mu'ti saat menanggapi usulan penghapusan kebijakan naik kelas otomatis dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Jumat 2 Oktober 2026.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Sebenarnya Diwacanakan 2027?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\"Terkait peningkatan mutu, kami mendapatkan masukan, termasuk masukan dari Pak Yanto dan kawan-kawan di Dewan Pendidikan supaya kebijakan tidak naik kelas diberlakukan lagi,\" kata Abdul Mu'ti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika disepakati jadi rekomendasi konvensi, maka mulai tahun ajaran 2027 dan seterusnya tidak semua murid otomatis naik kelas. Penentuan kenaikan kelas nantinya akan lebih menitikberatkan pada perkembangan kompetensi serta kesungguhan siswa dalam menempuh proses pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya? Jujur aja, sistem lama yang \"yang penting sudah setahun, ya naik\" mau diakhiri. Toni Toharudin dari Kemendikdasmen menyebut penyusunan mekanisme kenaikan kelas ini ditargetkan rampung pada 2027.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Loh, Bukannya Sekarang Sudah Boleh Tidak Naik Kelas?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam aturan yang berlaku saat ini, keputusan kenaikan kelas mengacu pada Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan edisi revisi 2025 yang memperjelas mekanisme penentuan kenaikan kelas. Anggota P2G, Iman Zanatul Heri, menjelaskan sekolah perlu mempertimbangkan pencapaian kompetensi dan tingkat kehadiran siswa sebelum menentukan kenaikan kelas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi secara regulasi, sekolah itu sebenarnya SUDAH BOLEH tidak menaikkan siswa. Tapi praktiknya? Hampir 99% naik. Kenapa? Karena tidak ada instrumen remedial yang jelas, takut diprotes orang tua, dan beban administratif guru.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Data Jujur yang Bikin Kita Harus Berhenti Pura-Pura Baik-Baik Saja (Update ANBK 2025 &amp; PISA 2026)<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jujur aja, kalau kita masih pakai data 2022, kita ketinggalan kereta. Oktober ini, Kemendikdasmen baru saja mengumumkan Hasil Asesmen Nasional TA 2025\/2026 akan diumumkan pada bulan Oktober 2026. Kenapa lama? Karena respondennya bukan cuma murid, tapi juga guru dan kepala sekolah, jadi analisisnya lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan yang bikin ini momennya pas: hasil akhirnya akan dirilis pada Oktober 2026, bersamaan dengan data PISA 2025. Rapor Pendidikan Tahun Data 2025 yang kamu lihat di dashboard sekolah itu memang merupakan hasil rangkaian Asesmen Nasional tahun 2025 yang dirilis tahun 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, data PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 ini yang bikin kita harus berhenti pura-pura baik-baik saja:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">PISA 2025: Naik Dikit, Tapi Masih di Papan Bawah<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia melibatkan 14.168 siswa dari 419 sekolah dan dinyatakan memenuhi standar kualitas PISA. Hasilnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sains: 389 - naik 6 poin dari 383 di 2022<\/li>\n\n\n\n<li>Membaca: 365 - naik 6 poin dari 359 di 2022<\/li>\n\n\n\n<li>Matematika: 364 - turun 2 poin dari 366 di 2022<\/li>\n\n\n\n<li>Skor rata-rata kita: Sains 389, Matematika 364.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peringkatnya? Sains peringkat 73 dari 91 negara, literasi membaca peringkat 74 dari 90 negara, sementara matematika peringkat 78 dari 90 negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling jujur: persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum cuma 36,81% untuk sains, 27,11% untuk membaca, dan 16,93% untuk matematika. Artinya, 83% siswa kita belum mencapai minimum untuk matematika.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Paradoks Gen Z Indonesia:<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data PISA 2025 juga ngasih fakta unik: 80 persen siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu tinggi, di atas rata-rata OECD sebesar 73 persen. Kita itu penasaran banget, pengen belajar. Tapi 60,9% siswa tergolong berprestasi rendah di ketiga ranah sekaligus (sains, membaca, matematika).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasa ingin tahunya tinggi, kemampuan bernalarnya masih tertinggal. Ini bukan salah siswa malas. Ini salah sistem asesmen yang selama ini ngasih nilai naik kelas otomatis tanpa ngasih tau \"kamu itu sebenarnya belum paham\".<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi kalau ada yang bilang \"ujian kenaikan kelas 2027 itu menghukum\", data ANBK 2025 &amp; PISA 2026 bilang sebaliknya: sistem lama yang menghukum kita dengan ilusi semua baik-baik saja, padahal 5 dari 10 anak belum bisa literasi minimum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini yang mau dibenahi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Suara Guru di Threads: Antara \"Akhirnya!\" dan \"Waduh...\" + Satuan Pendidikan yang Ikut Kejepit<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Threads, X, dan Facebook, debatnya pecah dua kubu dan ini yang bikin isu ini hidup. Tapi kalau kamu cuma dengerin suara guru, kamu kelewatan setengah cerita. Sekolah sebagai satuan pendidikan juga lagi keringet dingin.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Kubu Guru yang Lega: \"Akhirnya Ada Konsekuensi\"<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak guru curhat jujur: \"Sebagai pendidik melihat anak kelas 11 belum bisa baca tapi naik kelas terus, rasanya frustasi. Akhirnya ada konsekuensi.\"<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buat mereka, wacana ini ngasih harapan munculnya rasa takut, malu, dan rugi jika tidak naik kelas sehingga terpaksa harus belajar. Sisi positifnya ada rasa tanggung jawab lagi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Kubu yang Khawatir - Dan Ini Valid Banget<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>a. Mental Health &amp; Bullying:<br><\/strong>\"Takutnya anak yang tinggal kelas dibully sama kawannya\" dan \"apakah dampak sosialnya nanti bisa menimbulkan kekacauan?\" Ini pertanyaan DPRD Jabar yang juga dirasain guru BK. Data menunjukkan murid yang tidak naik kelas dapat mengalami tekanan psikologis, kehilangan kepercayaan diri, merasa malu, bahkan risiko putus sekolah jika tidak dapat dukungan keluarga dan sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>b. Pungli &amp; Tekanan Ortu:<br><\/strong>\"Jika hal tersebut diterapkan berarti sogok menyogok bakal marak lagi donk supaya murid yang malas bisa naik kelas?\" Komentar ini paling banyak di-like. Guru takut disalahkan kalau ada yang tidak naik, padahal masalahnya sistemik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>c. Nasib Siswa Inklusi &amp; Standar Gak Jelas:<br><\/strong>Sejumlah netizen mempertanyakan standar penilaian, nasib siswa inklusi, hingga kemungkinan kebijakan tersebut berdampak terhadap akreditasi sekolah. Kebijakan ini dinilai dapat mendorong murid lebih serius, tetapi juga berisiko merugikan anak yang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih dari sekolah, bukan hukuman tinggal kelas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Dampak ke Sekolah: Yang Gak Pernah Diceritain<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini information gain yang kompetitor lewatkan. Selama ini kenapa banyak SD melarang siswa tinggal kelas?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilansir dari curhatan di TikTok guru, salah satu penyebab utama adalah kebijakan di beberapa SD yang melarang siswa untuk tinggal kelas demi mempertahankan nilai akreditasi sekolah. Kebijakan ini mengakibatkan siswa yang belum memenuhi standar tetap naik kelas tanpa pemahaman yang memadai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau 2027 aturan ini beneran jalan, sekolah akan kena 3 dampak langsung:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Rapor Pendidikan &amp; BOS Kinerja Dipertaruhkan:<br><\/strong>Penting untuk dipahami bahwa hasil Rapor Pendidikan tidak digunakan untuk memeringkatkan atau menghakimi satuan pendidikan, namun satuan pendidikan yang memiliki peningkatan terbaik dari nilai Rapor Pendidikan akan berkesempatan mendapatkan BOS Kinerja Sekolah Berkemajuan Terbaik. Kinerja terbaik ditentukan berdasarkan hasil atau peningkatan rapor pendidikan pada indikator kualitas pembelajaran dan hasil belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, kalau tiba-tiba banyak anak tidak naik kelas, rapor mutu sekolah bisa anjlok, dan peluang dapat BOS Kinerja yang selama ini jadi rebutan karena skor literasi-numerasi bagus bisa hilang. Sekolah harus melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan yang telah diberikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Beban Administratif &amp; Dapodik:<br><\/strong>Sekolah harus bikin berita acara, asesmen ulang, dan laporan kenapa anak tidak naik. Jumlah ketidakhadiran dan capaian kompetensi yang jadi pertimbangan juga diserahkan kepada kebijakan masing-masing satuan pendidikan. Tanpa panduan yang matang, ini rawan jadi beban baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Stigma \"Sekolah Buruk\":<br><\/strong>Kalau ada anak tidak naik kelas, mindset lama mikirnya \"sekolahnya gak becus ngajar\". Padahal kata pakar Cecep, \"Jika ada anak tidak naik kelas, itu bukan hukuman pada anak, tetapi bentuk reedukasi kepada sistem.\"<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi PR Kemendikdasmen bukan cuma bikin aturan \"boleh tidak naik\", tapi harus jamin: jangan sampai program ini dilaksanakan tanpa kajian yang matang, justru nanti akan membebani siswa-siswi kita yang ada di satuan pendidikan, dan bikin sekolah milih jalan aman: naikin aja biar akreditasi aman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena kalau sistemnya masih sama, yang dihukum bukan cuma siswa, tapi juga sekolahnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Peluang untuk Bisnis Bimbingan Belajar: Ketika Sekolah Ketat, Bimbel Jadi Jalan Tengah?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jujur aja, setiap ada wacana \"tidak naik kelas\" pasti ada satu pihak yang langsung buka kalkulator: bisnis bimbel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan data 2026 ngasih sinyal ini bukan sekadar feeling. Matematika berdiri di puncak permintaan les privat sepanjang tahun ajaran ini, mengukuhkan posisinya sebagai inti kebutuhan belajar keluarga Indonesia. Indeks permintaan les privat tahun ajaran 2025\/2026 dengan Matematika = 100, jadi mapel paling dicari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisnis les privat menjadi semakin populer di Indonesia, terutama karena meningkatnya minat orang tua untuk memberikan bimbingan akademik tambahan bagi anak-anak mereka. Ini peluang bisnis yang cukup menguntungkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kenapa wacana 2027 bikin bimbel auto-panen?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Orang Tua Panik ANBK &amp; PISA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permintaan les privat tidak muncul di ruang hampa. Kurikulum Merdeka ditetapkan sebagai kerangka nasional dengan penekanan pada penguatan literasi dan numerasi. Ketika hasil ANBK 2025 dan PISA 2025 nunjukin cuma 16,93% siswa capai minimum matematika, orang tua langsung mikir: \"Kalau di sekolah belum tuntas, harus cari di luar.\"<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program bimbel SD yang sekarang aja sudah ditujukan untuk siswa kelas 3, 4, 5, dan 6 SD yang ingin menguasai kompetensi dasar literasi dan numerasi sebagai bekal ke jenjang SMP. Apalagi kalau 2027 ada ancaman tinggal kelas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Celah yang Tidak Diajarkan di Sekolah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rendahnya kemampuan numerasi siswa disebabkan karena tidak semua guru matematika di sekolah mengetahui tentang soal-soal matematika model PISA dan menggunakan soal tersebut dalam pembelajaran. Masalah ini kemudian dicoba untuk diminimalisir dengan membuat bimbel pada saat jam pulang sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini celah emas buat bimbel: ngajarin soal model PISA, AKM, logika, bukan hafalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Model Bimbel yang Bakal Naik Daun di 2027<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan bimbel drilling soal UN jaman dulu. Yang relevan sekarang menurut riset pasar pendidikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bimbel Remedial Literasi-Numerasi: Fokus baca pemahaman &amp; numerasi kontekstual, bukan matematika rumus cepat. Targetnya SD kelas 3-6.<\/li>\n\n\n\n<li>Bimbel Hybrid Kecil: Bisnis seperti bimbel, pelatihan coding anak, atau kelas public speaking menjadi sangat relevan. Cukup dengan kelas online atau tatap muka kecil, bisnis ini sudah bisa dimulai. Modal kecil, 3-5 anak per kelas.<\/li>\n\n\n\n<li>Les Privat Guru Honorer: Peluang side hustle. Banyak guru honorer yang buka les privat sepulang sekolah buat nutupin gap yang gak ke-cover di kelas besar.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tapi Hati-Hati, Ada Dilema Etikanya:<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau bimbel cuma jualan ketakutan \"Les di sini biar gak tinggal kelas!\", yang terjadi justru memperlebar ketimpangan. Anak yang mampu les, aman. Yang gak mampu? Makin tertinggal dan makin besar risiko tinggal kelas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal kalau ada anak tidak naik kelas, itu bukan hukuman pada anak, tetapi bentuk reedukasi kepada sistem. Seharusnya bimbel posisikan diri sebagai partner sekolah, bukan pengganti sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ide paling sehat yang sudah mulai dicoba: bimbel kerjasama sama sekolah - sekolah rujuk siswa yang butuh intervensi, bimbel kasih laporan perkembangan balik ke guru, bukan bikin persaingan nilai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi peluangnya ada, besar banget. Tapi yang bakal menang di 2027 bukan bimbel yang paling berisik iklannya, tapi yang paling paham cara ngajarin kompetensi PISA, bukan hafalan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Versi Bicara Info: Reformasi yang Kita Butuhkan Itu 3 Hal Ini<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau cuma ganti dari \"otomatis naik\" jadi \"bisa tidak naik\" tanpa ganti cara ngajar, ya sama aja bohong. Ini momentum pembenahan yang kita maksud:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asesmen Harus Formatif, Bukan Cuma Sumatif Akhir Tahun<br><\/strong>Jangan nunggu Juni baru ketahuan anak gak bisa baca. Butuh asesmen bulanan yang deteksi dini. ANBK yang menekankan literasi, numerasi, dan karakter sebenarnya sudah ke arah sana, tapi implementasi di kelas masih kejar nilai hafalan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Remedial yang Serius, Bukan Formalitas Fotokopi Soal<br><\/strong>Kalau anak belum capai kompetensi minimum, kasih intervensi personal, bukan cuma tugas tambahan. Ini butuh rasio guru-murid yang ideal dan pelatihan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kurikulum yang Sinkron Sama Realita<br><\/strong>Guru di lapangan bilang kurikulum sekarang bikin pelajaran yang mudah jadi susah. Kalau kurikulumnya berat tapi dukungan belajarnya minim, tinggal kelas cuma mindahin masalah dari kelas 7 ke kelas 7 lagi.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil Asesmen Nasional TA 2025\/2026 yang baru diumumkan Oktober 2026 ini jadi contoh bagus, karena respondennya bukan cuma murid tapi juga guru dan kepala sekolah. Mutu dinilai dari iklim sekolah, bukan cuma nilai anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Intinya, ujian kenaikan kelas 2027 jangan jadi alat untuk nakut-nakutin siswa dengan jargon \"MALAS = TINGGAL KELAS!\". Harusnya jadi cermin buat kita semua: sudahkah kita mengajar sampai anak itu benar-benar paham?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena tujuan akhirnya bukan bikin anak tinggal kelas. Tujuan akhirnya bikin tidak ada lagi anak yang harus tinggal kelas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wacana kembalinya ujian kenaikan kelas mulai 2027 bikin heboh. Kemendikdasmen bilang ini untuk akhiri era &#8220;Rajin Malas Sama Saja&#8221;. Tapi data ANBK bilang 50% siswa belum literasi minimum. Bicara Info Pendidikan bongkar kenapa ini harus jadi reformasi belajar, bukan sekadar hukuman tinggal kelas.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3841,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,435],"tags":[451,35,431],"class_list":["post-3840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-dikdasmen","category-jenjang-sekolah","tag-anbk","tag-guru","tag-pisa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3840"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3842,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3840\/revisions\/3842"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}