{"id":727,"date":"2025-12-30T11:12:38","date_gmt":"2025-12-30T04:12:38","guid":{"rendered":"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/?p=727"},"modified":"2026-07-30T10:18:34","modified_gmt":"2026-07-30T03:18:34","slug":"implementasi-deep-learning-2026-bukan-ai-tapi-pedagogi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/implementasi-deep-learning-2026-bukan-ai-tapi-pedagogi\/","title":{"rendered":"Menyongsong 2026: &#8216;Deep Learning&#8217; Bukan AI, Tapi Revolusi Cara Pikir di Ruang Kelas"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>JAKARTA, INFOPENDIDIKAN.BIC.ID<\/strong>\u00a0\u2013 Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (<em>Artificial Intelligence<\/em>\/AI) yang mendominasi diskursus global, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (<a href=\"\/tag\/dikdasmen\/\">Kemendikdasmen<\/a>) justru mengambil langkah filosofis yang berbeda. Menjelang tahun ajaran 2026, Menteri <a href=\"https:\/\/share.google\/XG6O3qgSsh8FsTHTX\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Abdul Mu'ti<\/a> tidak berbicara tentang mengganti guru dengan robot, melainkan tentang mengembalikan \"ruh\" pembelajaran melalui pendekatan\u00a0<strong><a href=\"\/tag\/deep-learning\/\">Deep Learning<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah kesalahpahaman publik perlu segera diluruskan:&nbsp;<em>Deep Learning<\/em>&nbsp;yang dimaksud pemerintah bukanlah algoritma mesin, melainkan arsitektur pedagogi baru untuk mendobrak kebiasaan belajar dangkal (<em>surface learning<\/em>) yang selama ini menjangkiti ruang-ruang kelas di Indonesia.<sup><\/sup>&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bukan Ganti Kurikulum, Tapi \"Upgrade Software\" Pengajaran<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam berbagai kesempatan konferensi pers akhir tahun, Mendikdasmen Abdul Mu'ti secara konsisten meredam kecemasan publik terkait stigma \"Ganti Menteri, Ganti Kurikulum\". Ia menegaskan bahwa tahun 2026 tidak akan ditandai dengan pembongkaran struktur Kurikulum Merdeka yang sudah berjalan. Sebaliknya, fokus pemerintah bergeser dari perubahan administratif ke transformasi substansial di dalam kelas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menjelaskan strategi ini, Kemendikdasmen menggunakan analogi teknologi yang menarik:&nbsp;<strong>Hardware vs Software<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Kurikulum Merdeka dianggap sebagai&nbsp;<strong>\"Hardware\"<\/strong>&nbsp;(perangkat keras) yang menyediakan wadah fleksibilitas dan pengurangan materi, maka&nbsp;<em>Deep Learning<\/em>&nbsp;adalah&nbsp;<strong>\"Software\"<\/strong>&nbsp;(perangkat lunak) atau sistem operasi yang menjalankannya.<sup><\/sup>&nbsp;Selama beberapa tahun terakhir, \"hardware\" pendidikan kita sudah diperbarui menjadi lebih ramping, namun \"software\" pengajarannya\u2014cara guru mengajar dan siswa berpikir\u2014seringkali masih menggunakan versi lama yang berorientasi pada hafalan (<em>rote memorization<\/em>).&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\"Kita tidak sedang merubuhkan rumahnya, kita sedang memperbaiki cara kita tinggal di dalamnya,\" ujar Abdul Mu'ti menggambarkan pendekatan ini. Kebijakan ini hadir sebagai respons terhadap fenomena&nbsp;<em>Surface Learning<\/em>&nbsp;(pembelajaran dangkal), di mana siswa hanya \"berselancar\" di permukaan pengetahuan untuk mengejar nilai ujian, lalu melupakannya segera setelah ujian usai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui \"upgrade software\" ke&nbsp;<em>Deep Learning<\/em>, pemerintah ingin mengubah standar interaksi di kelas. Guru tidak lagi dituntut sekadar menghabiskan bab di buku teks (administrasi kurikulum), tetapi dituntut memastikan siswa memahami konsep secara utuh, mampu menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lain, dan bisa memecahkan masalah kompleks. Langkah ini dinilai strategis karena menjaga stabilitas sistem\u2014guru tidak perlu pusing dengan aturan administrasi baru\u2014sambil secara radikal meningkatkan kualitas pemikiran siswa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Membedah Tiga Pilar Deep Learning<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inti dari strategi nasional ini bertumpu pada tiga pilar utama yang dirancang untuk membangun konstruksi berpikir siswa. Ketiga pilar ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaannya:<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Mind Full (Kesadaran Penuh):<\/strong>\u00a0Berbeda dengan\u00a0<em>mindful<\/em>\u00a0dalam konteks meditasi semata, dalam pendidikan ini berarti keterlibatan kognitif total. Siswa tidak lagi diposisikan sebagai objek pasif yang mencatat dikte guru. Mereka dituntut untuk sadar\u00a0<em>apa<\/em>\u00a0yang sedang dipelajari dan\u00a0<em>mengapa<\/em>\u00a0itu relevan bagi hidup mereka. Guru harus menghargai keunikan cara belajar setiap siswa.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mining Full (Penggalian Makna):<\/strong>\u00a0Mengambil metafora pertambangan, pilar ini menuntut siswa untuk menggali pengetahuan sedalam-dalamnya. Pembelajaran tidak boleh berhenti di permukaan kulit fakta (hafalan). Siswa didorong untuk mencari koneksi antar-konsep, berdiskusi, dan memecahkan masalah kompleks. Tujuannya adalah\u00a0<em>High Order Thinking Skills<\/em>\u00a0(HOTS) yang nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.\u00a0\u00a0\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Joy Full (Kebahagiaan Mendalam):<\/strong>\u00a0Ini sering disalahartikan sebagai \"belajar sambil bermain\". Padahal,\u00a0<em>Joy Full<\/em>\u00a0di sini merujuk pada kepuasan intelektual (<em>intellectual fulfillment<\/em>). Rasa bahagia yang muncul ketika siswa berhasil memecahkan soal sulit atau memahami fenomena rumit. Ini adalah kebahagiaan yang substansial, bukan sekadar hiburan di kelas.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut adalah visualisasi arsitektur pedagogi yang menjadi acuan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mulai tahun depan:<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Arsitektur Pedagodi: Tiga Pilar Deep Learning Indonesia<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"763\" height=\"415\" src=\"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/tiga-pilar-deep-learning.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-728\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/tiga-pilar-deep-learning.webp 763w, https:\/\/infopendidikan.bic.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/tiga-pilar-deep-learning-480x261.webp 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) 763px, 100vw\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ilustrasi konseptual kerangka kerja 'Deep Learning' yang diperkenalkan Mendikdasmen<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tantangan Epistemologis: Kesiapan Guru dan Fasilitas<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski konsepnya terdengar ideal, implementasi di lapangan menghadapi tembok tebal realitas. Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyoroti tantangan \"Kesiapan Mindset\".<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\"Mengubah kurikulum di atas kertas itu mudah, tanda tangan menteri selesai. Tapi mengubah&nbsp;<em>mindset<\/em>&nbsp;3 juta guru dari pola 'penceramah' menjadi 'fasilitator pemikiran mendalam' itu pekerjaan raksasa,\" ungkapnya. Data lapangan menunjukkan banyak guru masih terjebak pada target administratif ketuntasan materi, yang justru bertolak belakang dengan prinsip&nbsp;<em>Deep Learning<\/em>&nbsp;yang membutuhkan waktu eksplorasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, disparitas fasilitas menjadi isu krusial. Konsep&nbsp;<em>Mining Full<\/em>&nbsp;menuntut akses ke sumber pengetahuan yang kaya\u2014baik itu perpustakaan, laboratorium, atau internet. Bagi sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) atau wilayah pascabencana seperti Aceh Timur, \"menggali makna\" menjadi tantangan berat ketika buku pelajaran saja masih minim.<sup><\/sup>&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah menyadari hal ini. Kemendikdasmen telah menyiapkan modul pelatihan berjenjang dan&nbsp;<em>platform<\/em>&nbsp;digital untuk mendukung guru. Namun, keberhasilan&nbsp;<em>Deep Learning<\/em>&nbsp;pada 2026 tidak akan ditentukan di Jakarta, melainkan di setiap interaksi kecil antara guru dan siswa di ruang kelas. Apakah kita siap berpikir mendalam, atau akan kembali terjebak di permukaan? Waktu yang akan menjawab.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjelang 2026, Kemendikdasmen terapkan &#8216;Deep Learning&#8217; dengan 3 pilar: Mind Full, Mining Full, Joy Full. Simak analisis tantangan guru dan bedanya dengan Kurikulum Merdeka.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":695,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[140],"tags":[141],"class_list":["post-727","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kurikulum","tag-deep-learning"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/727","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=727"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/727\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=727"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bicarainfo.com\/pendidikan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}