Target 2027: Setiap Sekolah Dapat 6 Smart Board, 100.000 Sekolah Direvitalisasi Swakelola

Admin BIC
Admin BIC • 16 Oct 2026 • 4 menit baca
Pemerintah tetapkan target ambisius 2027: setiap sekolah punya 6 unit Interactive Flat Panel (smart board). Tahun 2025 baru 1 unit, 2026 tambah 3 unit, akhir 2027 genap 6 unit. Bersamaan, 100.000 sekolah akan direvitalisasi dengan skema swakelola Rp14,28 triliun — sekolah kelola sendiri perbaikannya. Target ini viral di YouTube & TikTok karena guru khawatir soal internet dan SDM di daerah 3T.
SOROTAN UTAMA
  • Smart Board: Setiap sekolah ditargetkan memiliki enam perangkat IFP pada tahun 2027, dari yang sekarang baru 1-2 unit per sekolah
  • Progres: Lebih dari 50 ribu unit telah digunakan, 150 ribu telah dikirim, total 288.000 unit IFP sudah didistribusikan secara nasional
  • Target Presiden: Tambahan 700 ribu panel sampai akhir 2026 / semester I 2027, dan target pemasangan 1 juta panel smartboard tahun depan
  • Revitalisasi: 71.744 satuan pendidikan jadi sasaran 2027 dengan mekanisme swakelola, berpotensi tambah 6.000 sekolah, perluasan hingga 100.000 sekolah dengan anggaran Rp14,28 triliun
  • Skema Swakelola: Anggaran transfer langsung ke rekening sekolah dikelola Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), tekan margin kontraktor Rp1,6 triliun dan serap 1,1 juta tenaga kerja lokal

BICARAINFO.COM - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan setiap sekolah di Indonesia memiliki enam perangkat Interactive Flat Panel (IFP) pada tahun 2027.

"Jadi keseluruhan pada akhir tahun 2027 kalau ini berjalan dengan lancar semoga ini berjalan dengan lancar tiap-tiap sekolah akan ada 6 IFP," ujar Mendikdasmen Prof Abdul Mu'ti di Jakarta, Selasa 11 November.

Baca juga: ifp

Rincian 6 Unit: Dari 1 Jadi 6 dalam 2 Tahun

Penambahan tersebut melengkapi tiga unit smart board yang telah dibagikan ke tiap sekolah pada 2026, sehingga total kepemilikan menjadi enam unit per satuan pendidikan pada akhir 2027. Sebelumnya, pemerintah juga telah mendistribusikan 288.000 unit IFP ke seluruh daerah untuk menunjang pembelajaran interaktif.

Sebelumnya, pada 2026 setiap sekolah sudah menerima tiga smart board, sehingga total menjadi enam unit pada akhir 2027. Pemerintah telah mendistribusikan 288.000 unit IFP ke sekolah di berbagai daerah guna menunjang pembelajaran yang lebih interaktif dan modern.

BIMBEL TKA 2026

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

DAFTAR

Presiden Prabowo menyebut program tersebut akan diperluas pada tahun ini dengan rincian: "Kita sudah membagi interaktif flat panel, layar pinter di seluruh sekolah Indonesia, satu per sekolah tahun lalu sudah kita bagikan. Tahun ini kita akan tambah tiga plus per sekolah. Saya harapkan di akhir 2026 akan sudah tersampaikan, terkirim kurang lebih tambahan 700 ribu panel pinter atau smart digital panel di seluruh sekolah Indonesia. Akhir Desember 2026 atau semester pertama 2027."

Sejauh ini lebih dari 50 ribu unit IFP telah digunakan dan lebih dari 150 ribu telah dikirim ke berbagai sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam peluncuran Program Digitalisasi Pembelajaran, beliau menargetkan pemasangan 1 juta panel smartboard atau interactive flat panel (IFP) di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia pada tahun depan.

Revitalisasi 100.000 Sekolah: Dari 35 Ribu ke 100 Ribu

Bersamaan dengan digitalisasi, pemerintah juga kejar target fisik.

Pemerintah mengupayakan tambahan anggaran agar program perbaikan dapat mencakup sekolah di seluruh Indonesia, dengan target sekitar 100 ribu satuan pendidikan yang diusulkan mulai ditangani pada 2027.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027 dengan mekanisme swakelola oleh masing-masing sekolah seperti yang diterapkan pada tahun sebelumnya. “Mekanismenya tetap sama dengan tahun lalu, jadi swakelola oleh masing-masing satuan pendidikan. Jadi tidak ada perubahan,” kata Abdul Mu'ti di Surabaya, dikutip Minggu 27 September 2026.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah sekitar 6.000 sekolah yang saat ini masih dalam proses penghitungan. Dorongan tersebut disampaikan menyusul rencana Kemendikdasmen menyiapkan anggaran Rp14,28 triliun secara nasional untuk Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2027. Pemerintah juga menargetkan perluasan program hingga menjangkau 100.000 satuan pendidikan, terutama sekolah rusak berat, sekolah di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), serta sekolah terdampak bencana.

Untuk konteks, di tahun 2026 program ini menjangkau 35.769 satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia dengan skema swakelola. Sampai dengan Oktober 2026, Kemendikdasmen mencatat sebanyak 4.374 sekolah telah merampungkan proses pembangunan.

"Sehingga kalau Pak Presiden menyampaikan bahwa 2027 nanti akan ada sekitar 100.000 satuan pendidikan yang akan dibangun, maka pada akhir tahun 2028 semua sekolah di Indonesia akan sudah kami perbaiki, tentu sesuai dengan prioritasnya, terutama memang yang sekolah yang rusak berat," tuturnya.

Skema Swakelola: Kenapa Sekolah Kelola Sendiri?

Ini yang bikin kebijakan ini beda dari proyek infrastruktur biasa.

Salah satu faktor pembeda utama dalam pelaksanaan revitalisasi ini adalah penerapan skema swakelola, di mana anggaran ditransfer langsung ke rekening sekolah dan dikelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) bersama masyarakat sekitar.

Pemanfaatan swakelola berhasil menekan margin keuntungan kontraktor sebesar 10 persen atau setara Rp1,6 triliun, sehingga efisiensi anggaran tersebut dialokasikan untuk menambah cakupan sasaran sekolah hingga 54 persen dari target awal.

Mereka yang mengerjakan revitalisasi untuk 71.744 sekolah tu sekitar 1,1 juta orang, yang akan bisa bekerja dalam rentang waktu antara 3 sampai 8 bulan.

“Saya berharap semua sekolah akan selesai 2028, kita kalau tidak salah punya 288.000 sekolah, kalau tahun ini berarti 87.000 akan selesai akhir tahun berarti kita masih punya 200.000, kalau 100.000 (di) 2027, 100.000 (di) 2028 semua sekolah Indonesia sudah diperbaiki,” jelasnya.

PR Besar yang Viral di TikTok Guru: Listrik, Internet, SDM

Targetnya ambisius, tapi kolom komentar TikTok kepala sekolah isinya kekhawatiran yang valid.

Pertama, listrik. IFP 86 inch butuh daya 300-400 watt. Banyak sekolah di 3T listriknya masih 900 watt buat satu sekolah.

Kedua, internet. Smart board tanpa internet ya cuma jadi papan tulis mahal. Padahal banyak sekolah yang signal-nya masih EDGE.

Ketiga, kemampuan swakelola. Tidak semua kepala sekolah punya pengalaman kelola proyek Rp200-500 juta. Risiko salah kelola, telat, atau bahkan pungli, ada.

Inilah yang harus dijawab Kemendikdasmen. Digitalisasi dan revitalisasi ini harus jalan bareng: gedung dibenerin, listrik dinaikin, internet masuk, baru IFP-nya nyala. Kalau tidak, target 6 unit per sekolah cuma jadi pajangan di gudang.

Tags: #ifp

Admin BIC

Tim Redaksi Pendidikan

Admin BIC adalah tim pengelola konten di bawah naungan Brawijaya Intensive Centre (BIC). Terdiri dari para tutor dan konsultan pendidikan yang berkomitmen menyediakan informasi akurat, praktis, dan terpercaya.

iklan

Bimbel TKA SMA 2026

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *